Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Juli 2017

TAKUTLAH DARI ISTIDRAJ ALLAH







Takut atau khawatir dari istidraj sewaktu menerima kenikmatan merupakan sifat orang mukmin Sedang tidak adanya rasa kekhawatiran dari istidraj dengan terus menjalankan kemaksiatan disaat-saat menerima kenikmatan merupakan sifat orang-orang kafir.

Allah Ta’ala berfirman :


فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.
{Al An’am : 44}


Peristiwa istidraj ini pernah dialami oleh orang-orang kafir yang sama mendustakan ayat-ayat atau 
tanda-tanda kekuasaan Allah. Misalnya terdapat dalam Al Qur’anul Karim :

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.
{Al A’raf : 182}



Selanjutnya di antara macam-macam istidraj;

“Di antara kebodohan murid [orang yang memiliki kehendak untuk menuju kepada Allah]  ialah buruk budi pekertinya lalu ditangguhkan siksa daripadanya, maka dia berkata : “Seandainya ini termasuk keburukan budi pekerti, pasti sudah diputuskan bantuan Allah dan menyebabkan jauh daripada Allah”. Maka sesungguhnya telah diputuskan bantuan Allah daripadanya hanya saja ia tidak merasa, meskipun hanya berupa tercegahnya tambahan. Dan kadang-kadang dia ditempatkan di tempat yang jauh padahal dia tidak merasa, meskipun tidaklah jauh itu kecuali Allah membiarkan kamu dan apa yang kamu kehendaki


Diantara macam istidraj ialah tiada pengertian seseorang yang buruk budi pekertinya baik kepada Allah maupun kepada lainnya dimana pada saat itu dia sedang dalam keadaan beruntung. Sehingga tiada pengertiannya itu menyebabkan dia berkata : “Ah, seandainya apa yang saya lakukan selama ini merupakan kemaksiatan atau dosa, niscaya Allah akan menghentikan bantuan-NYA atau pasti saya diajukan daripadaNYA”. Ucapan seperti ini merupakan suatu kebodohan kerana sebenarnya Allah telah memutuskan atau mengurangi keberuntungannya, namun dia tidak merasa. Sehingga akhirnya 
pada suatu saat secara tiba-tiba dia akan terhempas dalam kehinaan.


Terputusnya dia dengan Allah atau kedudukannya semakin jauh tapi semua itu dia tidak merasa, maka yang demikian ini adalah merupakan suatu pertanda bahwa dia dihalangi untuk menuju kehadiratNYA. Orang yang demikian ini telah sesat dari jalan kebaikan, yang dalam bahasa al Qur’an didalam artinya sesat.


Diantara tanda-tanda orang yang dihinakan oleh Allah, ada tiga iaitu :

1. Berat dan sukar menjalankan ibadah, padahal dia sudah berusaha bersungguh-sungguh.
2. Mudah terjerumus kedalam maksiat, padahal dia sudah sepenuh hati berusaha meninggalkannya.
3. Tertutupnya pintu hajat kepada Allah sehingga merasa tidak perlu berdo’a dalam segala hal.


Adapun tanda-tanda orang yang mendapat pertolongan dari Allah, ada tiga iaitu :

1. Mudah mengerjakan amal kebaikan padahal dia tidak memiliki niat dan bukan tujuannya.
2. Berusaha melakukan maksiat, namun selalu terhindar daripadanya.
3. Baginya selalu terbuka hajat dan kebutuhannya kepada Allah.


Demikian tanda-tanda orang yang mendapat taufiq dari Allah dan orang yang dihinakan oleh Allah. Kita meski bisa meraba diri, termasuk golongan manakah kita ini. Setelah itu kita bisa meraba pula adakah Allah mengadakan istidraj kepada kita, atau kita termasuk orang yang memang mendapat taufiq daripada Allah. Wallahu’alam

Sabtu, 22 Juli 2017

MENCARI TEMAN BERGAUL







Memilih teman bergaul itu sangat penting. Jangan asal bergaul dengan setiap orang, kecuali dengan orang-orang yang berakhlaq baik. Sebab pergaulan dapat mempengaruhi watak dan prilaku seseorang. Bergaul dengan orang-orang shaleh, maka dia akan tertular akan keshalehannya mereka. Sebaliknya bergaul dengan orang-orang jahat, maka dia akan tertular kejahatan pula. Begitula pada dasarnya dampak akibat daripada pergaulan.

Ketahuilah, bergaul dengan orang bodoh yang tidak mengerti ilmu syari'at akan tetapi dia tidak mudah mengumbar hawa nafsu, itu lebih baik daripada bergaul dengan orang yang berilmu [mengerti akan ilmu syari'at] tetapi dia selalu mudah untuk mengumbar  hawa nafsunya. Artinya sebaik-baik yeman bergaul adalah orang yang baik budi pekertinya walaupun dia adalah seorang yang bodoh. Demikian sebaliknya sejelek-jeleknya kawan bergaul adalah orang yang jelek budi pekertinya walaupun dia itu seorang berilmu [alim]. Pada hakikatnya orang yang bodoh yang tidak mudah mengumbar hawa nafsunya adalah seorang pandai. Begitupun sebaliknya orang yang pandai dan alim yang selalu mengumbar hawa nafsunya adalah seorang yang bodoh, Kerana semestinya orang yang pandai dengan ilmunya itu  mampu membedakan antara yang baik dengan yang buruk dan antara yang halal dengan yang haram serta antara amal ta'at dengan amal maksiat. Jika terdapat seorang alim tidak mampu mempergunakan ilmunya itu berarti bermanfaat. Jadi dengan demikian itu orang tersebut tak ubahnya seperti orang yang bodoh.

Dalam pergaulan kita dituntut untuk lebih waspada dan berhati-hati jangan sampai kita terjebak oleh pergaulan yang membewa pada kerusakan. Maka daripada itu berusahalah untuk selalu bergaul dengan orang-orang mu'min yang betul-betul beriman. Dengan imannya ia dapat memancarkan budi pekerti atau prilaku yang baik sehingga kita mampu meniru atau mentauladaninya.

TAMAK ADALAH SEBAGAI BIANG KELADI YANG MEMBAWA KEDALAM LEMBAH KEHINAAN






Tamak adalah sebesar-besar cacat dan bencana yang bisa merusak di dalam ibadah. Tamak ini termasuk penyakit hati. Bahkan merupakan pokok daripada segala bencana. Penyebab tamak adalah kerana adanya keragu-raguan terhadap takdir atau ketentuan Allah. Sehingga tidak ragu lagi bahwa orang yang tamak itu berarti telah rusak agamanya.

Orang yang memiliki sifat tamak, hatinya tergonjang-ganjing [tidak senang] hidupnya selalu dikejar-kejar mata dunia, dia ingin menumpuk-numpuk harta benda yang sebanyak mungkin tanpa memperdulikan darimana datangnya harta tersebut apakah dari barang halal ataupun dari barang haram. Akhirnya orang yang demikian ini akan terjerumus kedalam lembah kehidupan, iaitu menjadi budaknya harta benda.

Tamak itu berarti rakus kepada keduniaan. Adapun lawannya adalah wara', iaitu meyakini takdir Allah, menyandarkan dirinya kepada Allah dan memiliki ketenangan hati terhadap Allah.

Orang yang memiliki sifat wara', akan mendapat panggilan Ilahi sebagai hamba Allah yang mendapat kejayaan atau kemulyaan.

Adapun orang-orang yang memiliki sifat tamak akan menerima kehinaan, iaitu sifat orang kafir dan munafiq.

Allah Ta'ala berfirman :


يَقُولُونَ لَئِن رَّجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ ۚ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ


Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya". Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.


Alangkah hinanya orang yang memiliki sifat tamak ini kelak nanti di akhirat, sebab orang tamak ini sama halnya dengan orang kafir dan orang munafiq.

Abu Bakar Al Warraq Al Hakim berkata : " Bila dikatakan kepada tamak, siapakah ayah mu? Tamak menjawab : Ayah ku adalah keragu-raguan di dalam takdir [ketentuan dari Allah]. Bila dikatakan kepadanya lagi : Apakah pekerjaanmu? Tamak menjawab : pekerjaanku adalah mencari kehinaan. Bila ditanyakan kepadanya lagi : Apakah tujuanmu? Tamak akan menjawab : Terhalang, agar tidak mendapat apa-apa".

Sekali waktu Ali bin Abu Thalib berkunjung ke masjid besar Bashrah. Di dalam masjid itu beliau menjumpai banyak penceramah yang memberikan ceramah kepada kaum muslimin. Satu persatu dari penceramah itu beliau uji dengan beberapa pertanyaan. Bila mereka bisa menjawab, selanjutnya boleh memberikan ceramah di dalam masjid tersebut. Tetapi jika tak bisa menjawab, dipersilahkan mereka menghentikan ceramahnya. Maka sampailah beliau kepada seorang bernama Hasan Bashri.

Sayyidina Ali bertanya : "Hai pemuda, saya akan menanyai kamu dari sesuatu perkara. Jika kamu mampu menjawab, maka kamu boleh terus memberikan ceramah di masjid ini. Namun jika kamu tak mampu menjawab, saya akan mempersilahkan kamu untuk menghentikan ceramah kamu di masjid ini untuk selama-lamanya".

Hasan Bashri menjawab : "Silahkan bertanya dari apa saja yang ingin kamu tanyakan".

Sayyidina Ali lalu bertanya : "Apakah yang dapat mengkokohkan agama?"

Hasan Bashri menjawab : "Wara'".

Sayyidina Ali bertanya lagi : "Apakah yang dapat merusak agama?'

Hasan Bashri menjawab : "Sifat tamak".

Setelah benar Hasan Bashri memberikan jawabannya kepada Sayyidina Ali, maka Sayyidina Ali mempersilahkan Hasan Bashri untuk melanjutkan ceramahnya dan memberikan pengajaran agama di masjid besar Bashra.

Dari dialog tersebut dapatlah di ambil kesimpulan bahwa sifat tamak adalah sebagai perusak agama, dan sifat wara' adalah sebagai penegak atau penolong agama.

"Tidak menuntut kepada kamu sesuatu seperti wahm [angan-angan]"

Sesungguhnya wahm atau angan-angan itu merupakan penyebab timbulnya tamak. Kerana seandainya hatinya yakin kepada takdir, pastilah tidak akan tamak. Disebabkan segala sesuatu yang telah dipastikan oleh Allah, pastilah akan terwujud. Sebaliknya segala sesuatu yang tidak dipastikan oleh Allah, tak mungkin akan terwujud.

Angan-angan atau memikirkan sesuatu yang tak berguna yang dapat merusak fikiran kita itu adalah dilarang oleh agama Islam. Orang yang kerjanya selalu mengkhayal yang bukan-bukan memikirkan sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia di sebabkan kerana yang demikian ini hatinya belum yakin benar akan takdir Allah.

Seandainya dia yakin dan percaya akan takdir Allah, tentu dia tak akan memiliki sifat tamak. Sebab yang terjadi ini adalah sudah menjadi suratan takdir Allah.

"Kamu merdeka [bebas] dari segala sesuatu yang kamu telah putus daripadanya. Dan kamu tetap menjadi budak bagi segala sesuatu yang kamu tamak kepadanya".

Tamak memang sifat yang jelek lagi tercela. Orang yang tamak kepada sesuatu, berarti dia menjadi hamba sesuatu tersebut. Sebaliknya orang yang tidak tamak, artinya orang yang menerima apa adanya dari takdir Allah, dia pasti bebas, tidak terikat. Orang yang berambisi untuk menduduki sesuatu jabatan yang tinggi, berarti dia akan diperbudak oleh ambisinya tersebut. Dia akan mau saja berbuat apapun demi ambisinya itu. Begitulah sifat orang tamak, sehingga dalam segala hal dia selalu akan diperbudak, tidak dapat bebas dan selalu terikat oleh kemauan tamaknya itu.

Sedangkan orang yang qana'ah/wara' [tidak tamak] akan hidup bebas [tidak terikat] oleh sesuatu pun, sebab dia tidak memiliki ambisi apapun. Dia rela akan kedudukan, harta, ilmu yang dimilikinya. Sebab dia memiliki kepercayaan bahwa ini semua adalah sudah menjadi kepastian Allah yang manusia bagaimanapun tidak mampu untuk merubahnya.

Dalam sebuah sya'ir :

"Menerimalah dan janganlah tamak, maka tidak ada sesuatupun yang bisa memberikan cela terkecuali tamak"

Sampai dalam hal makan pun. Makanan yang dimakan oleh orang yang tamak itu tidak akan membawa berkah. Sedangkan makanan yang dimakan oleh orang yang rela akan bagian Allah [qana'ah] itu akan diberkahi walaupun sedikit jumlahnya.

Senin, 26 Juni 2017

JANGAN PUTUS ASA DALAM BERDO'A






“Janganlah ada kelambatan masa pemberian Allah dimana kamu telah bersungguh-sungguh 
dalam berdoa itu menyebabkan putus asa mu. Maka Allah telah menanggung kepada mu akan menerima semua doa di dalam apa yang Allah telah memilihkan untuk kamu, tidak di dalam apa yang kamu telah memilih untuk diri mu, dan dalam waktu yang Allah kehendaki tidak 
dalam waktu yang kamu kehendaki”




Setiap orang dianjurkan untuk berdoa. Tetapi tidak semua doa itu dapat langsung terkabul. Ada yang dikabulkan dan ada pulak yang lambat. Kelambatan penerimaan doa oleh Allah sehingga Allah tidak cepat memberi apa yang di minta di dalam doanya janganlah membuat putus asa. Sebab Allah itu Maha Mengetahui apa yang lebih baik bagi hamba-Nya, sehingga tidak mungkin Allah tidak mengabulkan doa seseorang. Hanya saja diterimanya doa itu menurut kehendak Allah, bukan 
menurut kehendak orang yang berdoa.


 : Allah Ta’ala berfirman


“Berdoalah kepada Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagi mu”
[Al Mu’min : 60]



Berdasarkan ayat diatas, maka Allah menjamin akan mengabulkan semua permintaan atau doa hamba-hambaNya. Hanya saja cara mengabulkannya sesuai dengan yang dipilihkan Allah, tidak menurut kehendak orang yang berdoa. Kerana manusia tidak bisa mengetahui manfaat atau madharat sesuatu barang atau prihal yang di mintanya.



Allah Ta’ala berfirman :




كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

 Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
[Al Baqara : 216]


Banyak manusia yang beranggapan bahwa jika Allah tidak mengabulkan doanya seseorang (hamba) itu berarti Allah menolak, tetapi pada hakikatnya yang demikian itu adalah Allah memberi. Sebagai mana suami-isteri yang mendambakan seorang anak. Sudah sekian lama berdoa, memohon kepada Allah agar dikurniai anak. Akan tetapi sudah sekian lama pula Allah belum berkenan menganugerahi seorang anak pun, maka bagi suami-isteri ini tidak boleh berputus asa atau berburuk sangka bahwa Allah tidak mengabulkan permohonannya. Kemungkinan Allah tidak cepat-cepat menganugerahi seorang anak atau sama sekali tidak dianugerahi anak. Kerana Allah lebih mengetahui akan segala yang mendatangkan manfaat dan madharat, jika doanya seorang hamba tadi dikabulkan maka siapa tahu nantinya akan menimbulkan kemaksiatan atau kemadharatan baginya. Apakah penolakan Allah dalam permohonan Allah tersebut tidaklah dinamakan memberi atau mengabulkan




Rasulullah saw bersabda :



“Tidak seorang pun yang berdoa melainkan Alah pasti akan mengabulkan doanya atau dihindarkan dari bahaya padanya atau diampuni sebahagian dosanya selama ia tidak berdoa untuk sesuatu yang menjurus kepada dosa atau untuk memutuskan hubungan sanak family”.



Allah Ta’ala pasti mengabulkan doa seorang hamba, akan tetapi dalam pengabulannya itu ada tiga macam hal, antara lain :
 Pengabulan secara cepat۫
 Penagbulan secara lambat۫
Sama sekali belum dikabulkan   ۫


“Janganlah sampai meragukan kepada mu di dalam janji Allah sebab tidak datangnya barang yang dijanjikan itu walaupun sudah nyata waktunya (datangnya barang yang dijanjikan pada waktu tertentu) agar keragu-raguan itu tidak mencemari penglihatan hati mu dan tidak meredupkan cahaya hati burani kamu”.


Janji Allah adalah benar dan pasti akan terjadi, entah kapan dan dalam keadaan yang 
bagaimana, namun itu pasti akan terjadi.


Oleh sebab itu barangsiapa yang telah di beri janji sesuatu oleh Allah meskipun telah nyata waktunya namun kemudian apa yang dijanjikan itu belum juga datang, maka hal itu janganlah menjadikan keragu-raguan di dalam kebenaran janji Allah. Sebab bisa juga datangnya janji itu tergantung dengan sebab dan syarat yang telah dipilihkan Allah.




Jumat, 23 Juni 2017

SEMANGAT YANG MENGGELORA TIDAK BISA MENEROBOS TIRAI TAKDIR




"Kekuatan semangat itu tidak bisa menembus tirai kepastian yang telah ditakdirkan oleh Allah. Oleh kerana itu tenangkanlah jiwa mu dari urusan mengatur kebutuhan duniawi. Sebab apa yang telah disanggupkan oleh selain kamu yaitu Allah, maka janganlah kamu ikut memikirkannya"



Sejak manusia ada dalam rahim ibu, Allah sudah menentukan akan nasibnya hidup di alam dunia ini yaitu, bahagia dan celaka. Kepastian yang sudah ditetapkan oleh Allah itu manusia tidak akan bisa menembus dengan semangat kekuatan yang menggelora itu. Jadi seandainya ada orang yang bercita-cita dengan semangat yang tinggi untuk bekerja atau membuat sesuatu dengan maksud agar mendapat untung atau bisa tercukupi rizqinya, maka cita-citanya itu tidak akan mampu menembus kepastian qoadrat azalinya. Sehingga dengan demikian orang tak perlu banyak berangan-angan mengenai masalah rizqinya. Sebab Allah sudah memberikan kepastian kepada hamba-hambaNya sebelum terlahir.


Disinilah perlunya bagi setiap orang untuk menenangkan jiwanya dari berangan-angan dalam masalah-masalah yang belum terjadi. Misalnya berangan-angan mengenai kebutuhan makan besok atau bulan mendatang. Sebetulnya hal itu telah ditetapkan oleh Allah sebelum manusia terlahir kedunia, baik mengenai ajalnya, rizqinya, kenikmatan dan kecelakaannya. Usaha manusia dalam hal ini tidak bisa memberi bekas apapun, sehingga tidak berfaidah sama sekali.


Ketahuilah bahwa untuk menghilangkan kerisauan angan-angan yang ada dalam jiwa kita tentang urusan yang belum terjadi itu adalah ajakan hawa nafsu. Oleh sebab itu orang haruslah ingat pada sepuluh perkara :


1. Harus mengerti bahwa sebelum manusia terlahir segalanya telah ditetapkan oleh Allah, mengenai rizqi, ajal, baik dan buruknya nasib dan lain sebagainya.



"Sesungguhnya setiap kalian itu dikumpulkan kejadiaannya didalam perut ibunya dalam empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal darah dalam empat puluh hari. Setelah itu berubah menjadi segumpal daging dalam empat puluh hari pula. Lalu diutuslah Malaikat kepadanya seraya disuruh meniupkan ruh kedalamnya serta diperintah untuk mencatat empat kalimat (ketetapan) yaitu : ditulis rizqinya, ajalnya, amalnya, dan nasibnya celaka atau bahagia".
[HR. Bukhari dan Muslim]



2. Segala urusan atau kerumitan yang menimpa pada diri kita hendaknya diserahkan sepenuhnya kepada Allah dan Allah sudah menjamin setiap hambaNya yang berserah diri.

Allah Ta'ala berfirman :


وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
[At Thalaq : 3]


3. Supaya mengerti bahwa takdir Allah itu tidak akan terpengaruh oleh suatu usaha dalam mencapai apa-apa yang belum terjadi. Sebaliknya sesuatu yang telah terjadi pada diri seseorang itu terkadang tidak terpikirkan sebelumnya.

4. Perbanyaklah waktu-waktu yang kosong untuk mengabdi kepada Allah, hingga masuk kedalam liang kubur. Sebagaimana firman Allah dalam al Qur'an :


وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ


dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

5. Supaya mengerti bahwa jiwa dan raga manusia ini milik Allah bukan miliknya sendiri. Kerana bukan miliknya maka manusia tidak boleh mengira-ngira dirinya, sebab hal seperti itu bisa disenut ghasab. Yaitu memakai atau memanfa'atkan sesuatu barang yang bukan miliknya tanpa izin. Yang berhak mengira-ngirakan kecukupan seseorang hanyalah Allah semata.

6. Untuk mengerti bahwa Allah yang memberi rizqi kepada semua makhlukNya, dari binatang sampai kepada manusia. Sebagaimana firman Allah Ta'ala :


۞ وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).


7. Supaya mengerti bahwa Allah Ta'ala adalah Dzat yang Maha Memerintah. Semua yang ada di alam semesta ini tunduk dan patuh kepada perintahNya. Semuanya menyerahkan diri kepada Allah. Sehingga dengan demikian manusia harus mau menerima apa yang telah menjadi kebijaksanaan Allah.

8. Untuk mengerti bahwa manusia hidup di dunia ini sebagai seorang tamu Allah, pada satu saat nanti tamu itu pasti akan kembali atau pulang kerumahnya yaitu pulang kepada Allah. Sebagaimana diterangkan dalam hadist Nabi saw :


"Hendaklah engakau di dunia ini seperti seorang yang mengembara"
[HR. Bukhari]


Allah Ta'ala berfirman :


وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

 Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.
[Ankaboot : 64]


9. Supaya mengerti bahwa manusia tidak mengerti akhir dari semua perkara yang terjadi. Kadang-kadang suatu perkara itu disangka baik dan bermanfa'at akan tetapi ternyata membawa kemelaratan. Begitu pula sebaliknya.

10. Dimana saja kita berada hendaknya kita takut kepada Allah dalam keadaan sepi atau ramai, dan dalam keadaan susah atau gembira. Pasti Allah akan menunjukan jalan yang lurus.

Allah Ta'ala berfirman :


فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
[at Thalaq : 2]


Ketahuilah bahwa keluarnya seseorang dari angan-angan mengenai urusan duniawiyyah yang belum terjadi dan menerima apa yang telah ditetapkan oleh Allah itu termasuk semulia-mulianya ibadah. Dan sesungguhnya mengandalkan ikhtiarnya sendiri serta angan-angannya dalam mengatur urusan duniawinya termasuk kecelakaan yang besar. Ingatlah peristiwa yang menimpa pada putra Nabi Nuh as. Dia hingga mati kafir kerana angan-angan dan aturannya sendiri, melupakan aturan Allah.

"Ketekunan di dalam mencapai apa yang telah ditanggung oleh Allah dan kelalaian di dalam apa yang telah diperintahkan kepada mu menunjukkan atas kebutaan hati kamu"




TAKUTLAH DARI ISTIDRAJ ALLAH